Sekitar dua bulan yang lalu, pada pertengahan bulan Maret
seingat saya. Sempat mampir sebuah mimpi indah tapi sekarang akhirnya resmi
menjadi hanya sebuah kata ‘mimpi’. Saya begitu semangat untuk menggapai mimpi
itu, bahkan beberapa kali bolos kerja sekadar mengumpulkan segala persyaratan
yang wajib terpenuhi, tapi ada satu syarat yang tidak saya sadari untuk kelak
yang menjadi faktor utama saya gagal. Lucu memang, tapi ngelu di hati bagi
saya. Sebuah info beasiswa S1 untuk calon mahasiswa kurang mampu yang
diselenggarakan dompet Duafa. Ya, kalau bicara kurang mampu saya bisa
menghabiskan waktu berjam-jam untuk menanggapi pertanyaan bertubi tubi dari
seorang kawan saya. Karena memang perbedaan tolak ukur atau memang tolak ukur
yang belum jelas benar mengenai itu.
Saya sudah mensett apa rencana menyambut peluang emas
tersebut. Kuliah. Ilmu. Provesional. Menulis. Jurnalis. Ya, kata terakhir



