Sampai akhirnya otak dipaksa beradu argumen sampai mau muntah.
Kemarin malam baru saja menghadapi makhluk Tuhan berwujud manusia, menarik tapi sangat basi bagi saya. Awalnya saya tak tertarik menanggapi ucapan beliau, saya mencoba bersabar betul mendengarkan uraian pemahaman beliau tentang agama. Sampai saat beliau, mulai menyinggung agama lain dengan nada ditinggikan berbaur kebencian saya mulai risih. Pengalaman spiritual saya memang baru seumur jagung, perjalanan hidup juga tak seluas manusia manusia lain. Tapi pemahaman pertama saya, jika mau beragama, belajar akhlak dahulu, singkirkan kebencian, dan Rasul mengamini jihad terbesar adalah jihad melawan hawa nafsu. belajar mengendalikan, dari kecenderungan melampiaskan. Kata kata seorang Kyai menjadi prinsip dalam menjalani kehidupan ini, belajar mencintai sekaligus belajar untuk tidak dicintai. sungguh sebuah anjuran yang menenangkan, belajar toleran, dan memahami nilai substansi, bukan ragawi.
Inilah kira kira perbincangan yang boleh dilabeli debat kusir tadi malam
manusia (beliau, selanjutnya saya sebut M ) : bagaimanapun juga orang yahudi dan nasrani, tidak akan senang melihat kaum muslimin sholat shubuh berjamaah seperti sholat jum'at. sampai kiamat, kui wis jelas
setan (selaku saya, selanjutkan saya sebut S) : pada kenyataanya, pemahaman saya nantinya hanya menuju suudzon yang tak pasti