Tampilkan postingan dengan label curhat series. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat series. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Maret 2014

Koma

0 komentar
didepan kosan kulihat ke langit, rembulan separuh.
masuk kamar kos, bingung mau ngapain, nonton tipi jenuh acara komedi basi, baca buku yang abis dibeli dari bookfair Senayan kemarin baru tiga lembar moodnya udah ilang. Hape Cina colokan chargenya rusak, jadi kalau harus recharge kudu pake desktop.. Ampuuun, dah kalau dah jenuh tingkat dewa gini bikin kangen rumah, kangen sawah, kangen tilawaaahhh.. T,T.
Well,  kali aja bisa ngobatin jenuh, seenggaknya sugesti ane aja sih, TV ane source ke PC, online, ngepo apa kabar terbaru dumay. hehehe..

Rabu, 04 Desember 2013

Catatan 15bulan

0 komentar
Gak kerasa sudah 15bulan di tanah perantauan, sendirian jauh dari orang tua.
Hidup adalah sebuah pilihan atas apa yang ada dihadapan kita. Mau asem, pait, manis, gurih ya musti dijalani.
terbayang sekitar 15bulan yang lalu saat masih bekerja di perusahaan traktor di Jogja, dan memutuskan untuk hijrah ke Bekasi setelah diterima menjadi karyawan perusahaan truk multinasional. Tak bisa dipungkiri, misa awalku satu, duit banyak. Karena jelas UMR bekasi bisa dua bahkan tiga kali lipat UMR jogja. Sebagai perbandingan saat resign terakhir Agustus 2012 Gaji pokokku 980ribu, dan di September 2012 Gaji pokokku 1,7juta belum termasuk berbagai tunjangan.

Sabtu, 13 Juli 2013

Maiyah

0 komentar
Tahun lalu sejak Januari  sampai agustus, tiap pertengahan bulan saya berusaha untuk tak ketinggalan bermaiyah di Kasihan, Bantul. Awal mulanya mengikuti acara pengajian emha tersebut karena terpengaruh kawan blogger kompasiana namanya mas Khoirul Anwar asli Ngawi yang sedang (sekarang sudah lulus) kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tulisan mas Anwar (begitu ia saya sapa) di kompasiana begitu jernih dan mendalam dalam melihat

Senin, 31 Desember 2012

sebelas hari

1 komentar
Jum'at pagi, 21 Desember 2012
Suasana kremun, mentari samar teriknya. Bus Sumber Alam yang aku tumpangi tiba di terminal penumpang Giwangan, Yogyakarta. Ini mudik kedua saya sejak bekerja di Bekasi, perjalanan  kedua yang terhitung cepat, dibanding perjalalan mudik pertama yang benar-benar menguras waktu dan emosi.

Kuping terasa tak asing, dengan bahasa-bahasa percakapan dari kernet, sopir, pedagang asongan, ojek payung hingga simbok-simbok penyunggi bakul. Bahasa Ibu (jawa, pen-) yang susah aku temui di tanah rantau, kini aku tenggelam di dalamnya, aku sampai :)
ah, belum juga, masih harus ganti bus arah Solo untuk bisa sampai.

Minggu, 19 Agustus 2012

Anak-anak (dan) kita

0 komentar
Lepas Maghrib, 18 agustus 2012

Ramadhan tahun ini telah berakhir, sorak sorai penuh kemenangan begitu menggema di langit-langit senja. Dan kebetulan dua organisasi Islam terbesar di Indonesia sama-sama menentukan 1 Syawal jatuh pada hari Ahad besok, tentu saja harapanku dengan berbarengannya Ied fitri nanti pasti lebih semarak. Begitu, meski....

Masjid kami tak kalah sibuk dalam mempersiapkan segala pernak-pernik akhir Ramadhan. Mulai penerimaan zakat fitrah, maal dan fidyah sampai pembagiannya. dengan orang-orang (panitia) yang begitu luar biasa dedikasinya mengabdi umat, sesekali saya ambil bagian kecil disana, sekadar menyumbangkan

Kamis, 16 Agustus 2012

Quick : Kemerdekaan dalam belenggu mimpi

0 komentar
Kamis, 16 agustus 2012
Usai makan di meja makan yang sudah sekitar tiga tahun ini, kalaupun bisa bicara mungkin akan teriak, akhirnya bebanku sedikit berkurang. Bulan semakin semburat, bisa jadi kening kaum nahdliyin dan pemerintah masih saling berkenyit menentukan kapan 1 Syawal datang. Muhammadiyah sudah jauh hari menentukan tanggal 19 Agustus, Tapi berhubung slot untuk Menteri Agama memang jatahnya orang NU, jadilah pemerintah landasannya keputusan NU, sementara jatah Muhammadiyah ada untuk Menteri Pendidikan. Nggak nyambung memang, kalaupun ini dianggap sok mikir negoro sah-sah saja, hehe

Barangkali hati saya sedang diselimuti iblis, atau kalaupun harus berkhusnudzon dengan iblis, akui sajalah saya ini orangnya memang oportunis, pragmatis, bahkan sedikit atau bisa jadi banyak munafik.

Senin, 02 Juli 2012

Saling kejar Saling tampar, Cemburu nafkah

0 komentar

SALING KEJAR, SALING TAMPAR
CEMBURU NAFKAH

Bicara mengenai nafkah, maka variabel-variabel dibawahnya mau tak mau ikut terbawa. Tentang tolak ukur sukses, cita-cita, aturan dan campurtangan negara tentang kebebasan berekspresi mencari riski sampai ukuran kesejahteraan hidup manusia di bumi. Memang bukan kompetensi saya bicara tentang ini, tapi namanya juga penulis amatir, referensi dan opininya pun juga amatir, tapi satu yang saya pegang saya nggak mau berbohong tentang apa yang pernah saya lihat, alami dan rasakan. Pada akhirnya meski jurnal ini sangat rendah dari sisi intelejensi, tapi semoga memberi manfaat, masukan dan renungan massal. Heleh heleh J. Sungguh, mohon kritik saya habis-habisan jika ada ketidakbenaran dalam tulisan ini, insya Allah saya sadar.

Suatu malam tak jauh dari keramaian alun-alun kota Jogja, sebagai anak yang meragukan untuk dibilang

Kamis, 31 Mei 2012

JURNALIS, sebuah mimpi yang mahal

3 komentar

Sekitar dua bulan yang lalu, pada pertengahan bulan Maret seingat saya. Sempat mampir sebuah mimpi indah tapi sekarang akhirnya resmi menjadi hanya sebuah kata ‘mimpi’. Saya begitu semangat untuk menggapai mimpi itu, bahkan beberapa kali bolos kerja sekadar mengumpulkan segala persyaratan yang wajib terpenuhi, tapi ada satu syarat yang tidak saya sadari untuk kelak yang menjadi faktor utama saya gagal. Lucu memang, tapi ngelu di hati bagi saya. Sebuah info beasiswa S1 untuk calon mahasiswa kurang mampu yang diselenggarakan dompet Duafa. Ya, kalau bicara kurang mampu saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk menanggapi pertanyaan bertubi tubi dari seorang kawan saya. Karena memang perbedaan tolak ukur atau memang tolak ukur yang belum jelas benar mengenai itu.

Saya sudah mensett apa rencana menyambut peluang emas tersebut. Kuliah. Ilmu. Provesional. Menulis. Jurnalis. Ya, kata terakhir