Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Oktober 2013

Telepon

0 komentar
Mula-mula beberapa anak kecil berlari-larian di belakang mobil BMW yang membawa Aning sambil sesekali mencoba tangan-tangan kecil itu memegang body mulus mobil, atau juga melongok sosok yang ada di dalam mobil tersebut. Ketika Aning menurunkan barang-barang yang ada di dalam mobil, beberapa anak kecil yang lain berdatangan, berharap dapat bagian atau hadiah kecil dari Aning.
Beberapa tetangga yang lihat Nampak menasihati anak-anaknya. “Contohlah Aning itu, ayu, pinter, maju, bisa mbantu orangtuanya”,

Sabtu, 25 Mei 2013

wawancara narsis

0 komentar
"ceritakan siapa diri anda?"
pertanyaan sederhana itu nampaknya terlalu sulit untuk dijawab oleh seorang laki-laki yang duduk berhadapan dengan seorang pimpinan sebuah perusahaan. Pikirannya sibuk merangkai kata, tapi mulutnya masih terkatup. Meski tak keluar keringat dingin, lagaknya ia mulai kehabisan akal. 

Nama saya Arga Waskita, tapi itu hanya stempel dari orang tua saya agar orang-orang mudah mengenal dan menghafal saya. Saya lahir mendiami jasad manusia, yang dititipkan Tuhan pada keluarga sederhana, yang memaksa saya, ah sebenarnya juga bukan paksaan saya untuk bekerja keras. Sayaanak kedua dari...

Cukup ceritakan riwayat pendidikan anda?

Rabu, 24 April 2013

Cermin

0 komentar
"Kamu mulai berubah"
Seolah pertanyaan itu menyeruak dari cermin di depanku. Aku terpaku, kaku. Ketika aku yang masih perlu peng'aku'an, kini bayangan masa lalu memvonisku semacam itu.

Aku amati betul warna kulitku, nyaris tak berubah hitam legam dengan beberapa bekas jerawat di wajah, dan beberapa bekas luka di tangan dan kaki. Sama sekali tak kurasa ada perubahan. Mataku masih menyiratkan kesan mata pemalas, dengan hidung pesek menggantung bibir gelap dan kumis tipisnya, justru fisikku yang menua ini layak dianggap preman.
Tapi jelas aku bukan preman!!! kecuali sesekali

Jumat, 20 Juli 2012

Pagi Ramadhan

0 komentar
Kabut tak terlalu pekat, tapi hawa dingin begitu melekat ketika adzan subuh terdengar sahut-sahutan dari corong toa-toa masjid di kampung kami. Semua tampak khusuk mengakhiri makan sahurnya, tampak begitu nikmat kembali menjalani ritual Ramadhan sebagaimana biasa tahun-tahun sebelumnya. Kampung kami menggeliat sepagi ini, ya hawa dingin separah apapun tak dihiraukan. Seperti menyindir pulasnya ayam jantan. Masjid penuh. Subuh.

Kamis, 08 Maret 2012

Bimbang

0 komentar
Mata Talitha tampak sayu, kata kata yang keluar dari mulut Dani begitu dalam menyentuh dasar hatinya. Air matanya menggantung, masih mencoba ia tahan. Meski Dani pun tahu ini memang berat untuk diucap, sama beratnya untuk didengarkan, apalagi terhadap Talitha. Perempuan yang tak banyak bicara itu, memunggungi mata Dani. Jalanan terlihat sepi hanya sesekali petani mengayuh sepeda onthel pulang dari sawah, Talitha membuang tatapannya ke langit, mendung. Persis apa yang ingin ia keluarkan dari mata beningnya.

"jadi intinya hanya itu, mas mengajak aku kesini. Untuk bilang kalau mas akan meninggalkanku di kota ini sendirian, ya.. aku pahaaam mas, hidup gak cuma satu hari, dua hari selesai, ada jatah untuk kamu

Minggu, 26 Februari 2012

Peluruh

0 komentar
Langit Alengka kaku. Kusam, tertutup asap yang entah berapa ribu sumbernya. Masam, ratusan raut wajah mengawang. Di langit yang kusam, langit hati yang ikut masam. Berkerumun lebat, ada mayat. 

Di gubug tua dengan bambu sebagai soko gurunya. Pelan-pelan terdengar lantunan surah Yasiin yang hampir tak terdengar karena hingar warga desa lalu lalang berdatangan. Ada mayat, penghuni gubug tua tersebut. 

Pak Kirdjo, begitu mayat itu disebut ketika hidup. Terbaring di dipan kayu terbungkus kain putih. Bersih. Usianya tak terlalu tua, masih usia produktif kerja. Meski sebagai petani ladang. Ya, baginya semua profesi itu baik asal tidak korupsi. Mencari nafkah untuk anak istri di rumah. Tak merugikan orang lain apalagi membebani negara. Itulah yang membuat Pak Kirdjo merasa benar-benar menjadi manusia. Bukan tikus atau anjing!! 

Apadaya.. Kini raga Pak Kirdjo tak bernyawa. Sebuah peluru panas menembus ubun2nya. Darahnya terkuras habis, mengantarnya ke gerbang kematian. 

Warga desa diam khidmat. Entah apa maksud diamnya. Apakah diam sebuah ancaman? 
Sesekali salah seorang teriak tak jelas. Memaki-maki oknum pembunuh tetangganya tersebut. 
Kaum sudra memanas. Desa Alengka terbakar amarah. 

Tanah moyang mereka lagi sibuk digadaikan. Oknum2 pelindung berganti topeng menjadi preman tanpa pisau lipatnya, tapi mengokang pistol. Senapan, indentitas khas arogansian. 

Tanah desa Alengka, sumber setiap napas warga desa. Dari lahir sampai kembali ke tanah. Tanah desa Alengka, tak cuma bersimbah keringat, kini airmata darah meresap tanah.. Tanah, tanah, tanah ini bagi penghuninya adalah tanah air. Akan mereka perjuangkan dari penjajahan. Tak peduli rambut pirang atau rambut hitam. Keinginan mereka cuma satu, 
jangan rampas hak hidup kami!!

                                                                                                                       aditya feri