Selasa, 21 Februari 2012

KPSI= Penyelamat Sepakbola?

0 komentar


CATATAN 1 TAHUN REVOLUSI PSSI
Petanyaan diatas, yang sering kita dengar akhir-akhir ini sebenarnya sangat mudah dijawab dengan bererapa data dan fakta. Timnas yang tanpa prestasi, liga yang amburadul, mafia wasit dan judi, kerusuhan penonton, laporan audit yang tak pernah transparan, pemain naturalisasi yang bermuara di satu klub dan sebagainya. Tapi ada satu fakta yang jarang dibahas. Pembinaan usia dini yang selama ini terdengar heroik.
Sejak kecil saya sudah dibuai impian punya timnas yang ‘menangan’. Impian itu seakan jadi dekat ketika melihat sepak terjang Kurniawan DJ dkk. Tapi ternyata sampai do’a saya di Final Sea Games tahun lalu,  impian itu belum nyata juga.
Dimana letak kesalahannya? Kenapa sepak bola kita belum selamat? Kenapa sepakbola kita justru semakin rusak?

Jumat, 17 Februari 2012

Kopi Darat

0 komentar
17 Februari 2012,

Saya juga gak ngerti tiap kali nulis di blog masalah curhat kok pasti ujung-ujungnya bolos kerja. Hahaha, bukan bolos sih, tapi cuma ijin keluar. Saya itu tipe manusia seperti apa juga belum paham, mudah mengorbankan waktuku sendiri untuk orang lain. Ya tentu saja bukan sembarang orang gue rela meninggalkan pekerjaan sebentar. Bukan yang spesial di hati juga, nah loh terus yang bagaimana itu? Ya murni karena saya pengen menemui orang tersebut.

Yang pertama udah saya jabarin dalam tulisan Selembar Rasa Untuk Aditya, ya saya rela mbolos karena ingin menemui sahabat tercintaku yang mau balik ke Bandung. Efeknya ya senang, gak peduli gaji entar kepotong berapa yang penting gue puas menemui dia. Itu saja, jujur saya emang orangnya sering mengejar kepuasan. Kepuasan bathin maksudnya, kepuasan yang lain? Malu ah diceritakan disini.

Selasa, 14 Februari 2012

Sepak Bola?????

0 komentar
Dunia persepakbolaan Indonesia belum juga mau ditinggalkan kemelutnya. entah maksud macam apa hingga mereka begitu ngotot berebut posisi vital induk olahraga terpopuler ini. Kubu revolusi atau kubu status quo? Kalau gue?? Sudah gue jelaskan dan tegaskan kalau saya tetap mengawal dari belakang kubu reformis. Alasannya? Ya, sangat jelas. untuk apa mendukung kubu status quo yang telah mengangkangi Pssi selama delapan tahun tapi NOL prestasi. Pemimpinnya napi, Apbd gilagilaan tapi tak transparan dalam pertanggungjawaban, atur skor, suap wasit, yang palik gue jijik itu buat apa politikus ngurusin bola. Sampai sampai bilang 'prestasi ini (padahal cuma runner up lho) berkat saya dan partai GOLKAR'. Ingat gan, jangan sampai lupa!!!!! Perjuangan terberat saat ini adalah perjuangan melawan lupa.

Gue coba deh bongkar bongkar kebusukan rezim lama, yang saat ini lagi berkamuflase memakai nama Penyelamat sepakbola. Hahahaha, dagelan kelas birokrat. Kemana aja loe loe pade lapan taun ni?

Sejauh yang gue ingat aja ya, karena gue juga yakin memori otak gue gak muat menampung semua keburukan rezim Nh.

PERTAMA, gagal tampilnya Persipura dan Arema di Liga Champion Asia tahun 2006. Padahal Persipura dan Arema sudah mengirin daftar pemain jauh sebelum batas akhir. Ini murni kesembronoan Pssi saat itu. Bahkan mencuat kabar staf Pssi terbalik dalam mengirim fax.

menulis itu ..................

0 komentar
Langit langit hati seperti basah diguyur hujan, terlebih hujan es. Itu analogi ngawur saya untuk menggambarkan saat tulisan saya (yang kadang juga sering ngawur) dibaca banyak orang. Memang bagi penulis pemula seperti saya sangat butuh apresiasi dari banyak pihak, butuh masukan tentang semua hal yang masih kurang. Karena menulis bagi saya bukan hanya sekadar merangkai kata, bercerita untuk diri sendiri. Tapi untuk sharing, berbagi pengetahuan, atau marangsang imajinasi itu yang sangat menarik bagi saya.


Senin, 13 Februari 2012

kalimat indah dalam lirik lagu Iwan Fals #2

0 komentar
21.“Oh ya! ya nasib, nasibmu jelas bukan nasibku, oh ya! ya takdir, takdirmu jelas bukan takdirku”.
(Oh Ya! - album Swami 1989)

22.“Wahai kawan hei kawan, bangunlah dari tidurmu, masih ada waktu untuk kita berbuat, luka di bumi ini milik bersama, buanglah mimpi-mimpi”.
(Eseks eseks udug udug (Nyanyian Ujung Gang) - album Swami 1989)

23.“Api revolusi, haruskah padam digantikan figur yang tak pasti?”.
(Condet - album Swami 1989)

24.“Kalau cinta sudah di buang, jangan harap keadilan akan datang”.
(Bongkar - album Swami 1989)

Minggu, 12 Februari 2012

rEVOLution

0 komentar
Aditya masih termenung, merenung dalam. banyak hal yang berkecamuk ngamuk di setiap impuls saraf saraf otaknya. Ah, kenapa manusia berbeda? kenapa harus tercipta rasa. Apakah karena ini Tuhan memberi keistimewaan pada makhluk serakah bernama manusia? Cinta... Sungguh, sampai detik ini tak ada terjemahan baku tentang kata itu dalam diri Aditya. Bukan tak pernah merasakan tanda tanda kehadiran cinta, sama sekali bukan. Aditya pernah menyukai makhluk bernama wanita. Bahkan pernah menyebut sayang sayang an seperti kaum muda pada umumnya.