Minggu, 12 Februari 2012

kalimat indah dalam lagu iwan fals

0 komentar
1.“Berhentilah jangan salah gunakan, kehebatan ilmu pengetahuan untuk menghancurkan”
(Puing – album Sarjana Muda 1981)

2.“Hei jangan ragu dan jangan malu, tunjukkan pada dunia bahwa sebenarnya kita mampu”.
(Bangunlah Putra-Putri Pertiwi – album Sarjana Muda 1981)

3."Cepatlah besar matahariku, menangis yang keras janganlah ragu, hantamlah sombongnya dunia buah hatiku, doa kami dinadimu”.
(Galang Rambu Anarki – album Opini 1982)

4.“Jalan masih teramat jauh, mustahil berlabuh bila dayung tak terkayuh”.
(Maaf Cintaku - album Sugali 1984)

5.“Jangan kau paksakan untuk tetap terus berlari, bila luka di kaki belum terobati”.
(Berkacalah Jakarta - album Sugali 1984)

6.“Riak gelombang suatu rintangan, ingat itu pasti kan datang, karang tajam sepintas seram, usah gentar bersatu terjang”. 
(Cik - album Sore Tugu Pancoran 1985)

7.“Aku tak sanggup berjanji, hanya mampu katakan aku cinta kau saat ini, entah esok hari, entah lusa nanti, entah”. 
(Entah - album Ethiopia 1986)

8.“Mengapa bunga harus layu?, setelah kumbang dapatkan madu, mengapa kumbang harus ingkar?, setelah bunga tak lagi mekar”.
(Bunga-Bunga Kumbang-Kumbang - album Ethiopia 1986)

9.“Ternyata banyak hal yang tak selesai hanya dengan amarah”.
(Ya Ya Ya Oh Ya - album Aku Sayang Kamu 1986)

10.“Dalam hari selalu ada kemungkinan, dalam hari pasti ada kesempatan”.
(Selamat Tinggal Malam - album Aku Sayang Kamu 1986)

--------------------------------------------------------

11.“Kota adalah hutan belantara akal kuat dan berakar, menjurai didepan mata siap menjerat leher kita”.
(Kota - album Aku Sayang Kamu 1986)

12.“Jangan kita berpangku tangan, teruskan hasil perjuangan dengan jalan apa saja yang pasti kita temukan”.
(Lancar - album Lancar 1987)

13.“Jangan ragu jangan takut karang menghadang, bicaralah yang lantang jangan hanya diam”.
(Surat Buat Wakil Rakyat - album Wakil Rakyat 1987)

14.“Kau anak harapanku yang lahir di zaman gersang, segala sesuatu ada harga karena uang”.
(Nak - album 1910 1988)

15.“Sampai kapan mimpi mimpi itu kita beli?, sampai nanti sampai habis terjual harga diri”.
(Mimpi Yang Terbeli - album 1910 1988)

16.“Seperti udara kasih yang engkau berikan, tak mampu ku membalas, Ibu”.
(Ibu - album 1910 1988)

17.“Memang usia kita muda namun cinta soal hati, biar mereka bicara telinga kita terkunci”.
(Buku Ini Aku Pinjam - album 1910 1988)

18.“Dendam ada dimana mana di jantungku, di jantungmu, di jantung hari-hari”.
(Ada Lagi Yang Mati - album 1910 1988)

19.“Hangatkan tubuh di cerah pagi pada matahari, keringkan hati yang penuh tangis walau hanya sesaat”.
(Perempuan Malam - album Mata Dewa 1989)

20.“Kucoba berkaca pada jejak yang ada, ternyata aku sudah tertinggal, bahkan jauh tertinggal”.
(Nona - album Mata Dewa 1989)


Jumat, 10 Februari 2012

Selembar Rasa Untuk Aditya

0 komentar
Jogjakarta, 10 Pebruari 2012 09.40WIB

Terik menggantung. Musim hujan sepertinya sudah berlalu. tinggal kemarau, ah siapa rindu kemarau. kamarau kali ini terjemahan sudah lain. Panas berkepanjangan, krisis air, gagal panen. tapi, kenapa harus kemarau yang salah. Bukankah alam memberi petanda?

jalanan jogja masih padat, entah kesibukan apa saja yang membuat jalanan kota ini selalu padat. aditya keluar dari tempat parkir, sebuah alasan yang terdengar konyol tapi sangat berarti baginya untuk ijin keluar dari pekerjaan.Alasan yang mungkin cukup berat untuk diberi tanda tangan dari supervisornya. Berlebihan? bisa jadi. sahabat tercinta akan  balik ke Bandung siang ini, liburan kuliah sudah usai. Aditya ingin sejenak menemuinya, rencana rencana kemarin yang tak terwujud, semacam membuat janji tersendiri untuk Aditya. Harus bertemu sebelum sahabatnya, Tiwi meluncur ke Bandung. harus, terlebih ada rasa bangga muncul ketika menjadi sahabat terakhir yang ditemui Tiwi sebelum balik ke Bandung.

Revo keluaran 2009 berwarna silver itu melaju, menyusuri jalanan padat kota. sosok Tiwi menggelayut dalam pikiran. Laju revo makin kencang, seperti kuda kesetanan. Sampai akhirnya berlabuh di tujuan.

"Assalamu'alaikum", salam Aditya di beranda rumah Tiwi
"Wa'alaikum salam", sebuah jawaban dari dalam rumah. Tiwi tampak terkejut, hahahaha Aditya justru menikmati ekspresi terkejut sahabatnya. Dalam. Ya, jangan tanya.

Dan pas sekali, karena Tiwi akan ke stasiun pukul sebelas siang nanti. Sungguh Aditya tak menyesali sikap 'mbolos,nya itu. 'mulut' dengan 'mulut' bertemu, kata demi kata beradu. ya, kisah indah selalu terbungkus saat masa seperti ini. itu sebab kenapa dalam diri Tiwi aditya memberi stempel sahabat terbaik. termasuk katika Tiwi punya inisiatif gila menjadi makcomblang cinta Aditya. Tapi berhubung namanya makcomblang belum terverivikasi, jadilah Aditya meraba sendiri puzzle cintanya. Ah, bicara cinta masih ambigu baginya.

Yang Aditya tahu cukup perasaan nyaman akan sahabat ini yang membuat seribu alasan untuk tersenyum tiap pagi. Dunia masih menyimpan banyak keindahan. Manusia diciptakaan pada dasarnya menyukai keindahan, itu sudah inklud pada setiap diri.

Lima belas menit sebelum pukul sebelas, Tiwi bergegas. doa dari Bapak dan adik menyertai. semoga lancar dan selamat.

Aditya??? kini justru memacu kuda besinya ke selatan. menemui sahabatnya yang lain. diatas bukit ternyata perbincangannya dengan Tiwi terbawa.

Kamis, 09 Februari 2012

Pantaskah saya bicara niat? #2

1 komentar
Prambanan 23 Septemer 2011
Selamat sore,, 

matahari belum terbenam sempurna. 

Ini melanjutkan coretan saya yg sebelumnya.. Sebetulnya ingin segera saya teruskan, tapi apa lacur, belum sempat dan belum dapat inspirasi (ini pun saya teruskan dgn asal2an hehehe, padahal emang gak pernah serius).. 

Ya, masih tentang kontes orator kecil.. Bukannya mengkritik apa yg disampaikan, toh banyak yg berorasi dgn argumen yg luar biasa.. Sedang, mereka (orator2 kecil) sekadar memberi statement.. Atau dgn kata yg banyak kalian hindari 'dongeng'. 
Itu sebabnya saya lebih nyaman menyebut mereka 'orator' ketimbang nama yg terpampang menjadi judul acara. 

Terus,, apanya?? 

Apanya yg gimana?? Oh iya,, ini intinya yg paling saya risih.. Tentang metode penilaiannya.. Ini pilkada apa kontes ya?? Kok pake suara terbanyak.. Kalo biasanya pemilik suara yg dikasih duit, ini pemilik suara yg keluar duit.. Hahaha, kaya raya bener ya gan.. 
Ya, sebenarnya sah2 aja kalo itu kontes penyanyi, pelawak, atau penghuni kamar mayatlah.^_^ 
tapi ini kok mengklaim SYIAR ya?? Waduh,, terus laba hasil pilkadanya bwt kemanusiaan gak ya?? Apa buat nggaji juri2nya itu? 

Yah,, itu dia..tentang niat. Sesuatu yang sulit dijamah orang lain.. Mungkin saja niat acaranya baik, tapi caranya yg bisnisiawi, atau penilaian saya yang salah. (tapi niat saya bukan menjelek2an lho) 

ah, tahu apa saya tentang niat.. Negara saja sulit memahami niat.. Coba saja anda baca koran2 pagi, atau anda liat berita tivi.. Ceritanya? Sepertinya negeri ini dipenuhi koruptor semua.. Sebelum jadi pejabat, dengar saja celoteh2 mereka.. Bau mulut mereka begitu harum, tapi setelah jadi. Ya... Jadi koruptor.. Selagi ada kesempatan ya korupsi. Karena NIAT awalnya juga begitu. Kalopun ada yg gak korupsi, niatnya ya cari penghasilanlah. Toh pekerjaan mudah, datang, duduk, diam, dapat, duit.. 
Kenapa?? 
Ya, karena bangsa kita ini bangsa oportunis.. Soehartoisme sekali. Meminjam pemikiran pak sunardian 'mereka yg mengaku reformis tak jauh beda dgn rezim otoriter. Pengambil peluang saling menjatuhkan' 
kalau begini, masihkah ada pemimpin yg berniat mengubah negeri ini lebih baik?? Tentu juga berbuat, tapi dengan niat baik TITIK 

tetapi, 

jangan terlalu percaya saya tentang niat.. Tulisan ini pun saya niatkan agar anda baca dan beri tanggapan.. Hehehe 
lagi lagi 
pantaskah saya bicara tentang niat?

pantaskah saya bicara niat? #1

0 komentar
21.53wib 19 September 2011, dalam kamar depan televisi 

argh,, sebenarnya ingin segera memuntahkan pikiran ini sejak tadi.. Tapi kok ya koneksi gak meridhoi.. Putus nyambung putus modyar saja.hahaha 

setelah sempat melihat acara di stasiun televisi swasta yang menayangkan kontes orasi atau pidatolah yang mengatasnamakan agama. Ada hal menarik di akhir segmen. 

Salah seorang juri (ibu neno warisman), membuka pintu diskusi dgn para orator2 kecil itu.. Menarik, karena apa yang didiskusikan ini menyentil kasus yang masih hangat untuk dilupakan (ngapain juga diingat2 hahaha).. Tentang TKI yg mendpat vonis mati dr pihak pengadilan arab saudi krena suatu perkara ( yg saya emang udah lupa kronologisnya). Tapi vonis ini bisa dicabut jika TKI ini mampu membayar diyat sekian milyar dlm kurs rupiah. Singkat saja, karena lambatnya reaksi pemerintah maka ada pihak tvoon memprakarsai penggalangan dana untuk TKI malang ini.. Tapi begitu dana terkumpul sekianpuluh persen, pemerintah baru menyanggupi pembayaran diyat si TKI. 

Lalu bagaimana dana rakyat ini?? 
Dengan pertimbangan yg gak jelas (sy anggap tak bijak), pihak tvoon menyerahkan seluruh dana sumbangan rakyat itu kepada si TKI yg akhirnya selamat dan udah pulkam. Dan kini malah menjadi kaya karena dana rakyat tsb. 

Kembali ke diskusi kontes td, tentu saja cerita TKI itu sudah dimodif sedikit oleh ibu neno..^_^ 

ibu neno memberi pertanyaan pada para orator 
'jika adek menjadi penyumbang, apa sikap adek jika harta yg adek sumbang justru dialihfungsi untuk memperkaya yg disumbang?' 
salah satu jawaban 
'saya hanya mengharap balasan dr Allah setiap bersedekah' 

hmmm, susah juga menyentuh kasus ini.. Apalagi jaman sekarang.. 
Tapi ini jawaban versi saya: 

pertama 
mendengar jawaban si orator, saya coba menilai (mulai sotoy ni) jika dia itu masih dlm doktrinasi ancaman dan pahala.. Maklum, anak kecil selalu digituin.. Tentu saja jika lirik 'jika surga dan neraka tak pernah ada masihkah kau menyembah kepadaNya?' saya sodorkan, jd lain jawaban.. Hahaha 

kedua, dlm kasus TKI tsb.. Niatlah yg bermain.. Apa niat penyumbang memberi sumbangan kpdnya?? Tentu saja karena solidaritas atas kasus yg menimpanya.. Lalu bagaimana jika dananya jd berubah memperkaya si TKI?? disini seharusnya tvoon mengambil langkah bijak.. Yaitu mengembalikan harta penyumbang. Karena niat sudah dirusak.. Tapi mungkin saja ada yg berniat memberi harta emang untuk memperkaya?? Kalo begitu berikan pada saya saja.. Hehehe 

udah ngantuk, bersambung...

gue sih dukung poligami daripada politikus!!!!

0 komentar
Ampuun oom. Yang merasa tersinggung dengan judul provokatif saya. Asli, sebenarnya gak ada hubungannya tulisan ini dengan poligamer. Damai ya Syekh Puji. :). Hanya saja tingkat kemuakkan saya pada politikus lagi puncak-puncaknya. (gak penting juga kali diumbar2, kalo emosi cukup eloh aja yg tahu) 

Sudah sepakbola diobok-obok seenak wudele dhewe. Katanya provesional, tapi masih ngemis anggaran rakyat. Pas dimintai pertanggungjawaban kagak mau di audit lah. Ini ngomongin sepakbolanya VIVA lho, bukan FIFA. Kata berita sampe ada yang mau sunat dua kali segala, orang Pelita J*#a, plus merangkap jd anggota DPR. Ampuun DiJe... 
Belum lagi anggaran renovasi toilet yang butuh budget milyaran. Nah loh, rapat aja pada mangkir!! Terus Toilet siapa yang pake? Kata orang Sunda mah aya' aya' wae. 
Soal korupsi, konspirasi au ah gelap.. Udah satu suara semuanya. 

Yaa, yang sabar. Anda itu keracunan berita ya belum tentu juga benar.. 

Hehehe,, no comment ah. Oke lah saya ajak anda untuk membumi. Ke pengalaman pribadi. Di kehidupan nyata senyata2nya. 
Jalan raya. 

Ya, lalu?? 

Ya, jalan raya kalo anda liat banyak spanduk2 mesum tak beraturan. Senyum senyum palsu, slogan slogan mimpi apalagi coba?? Basi ah.. Kalo kelamaan basi jadinya jijik. 
Di lampu merah pingit contohnya, kalo anda dari arah timur. Anda pasti liat spanduk nyelip dibawah iklan pegadaian'nya oom dedi mizwar. Ada partai bergambar ka'bah. Dengan tulisan besar seakan ingin bercerita 'partai ini dengan tegas TOLAK dan LAWAN penghapusan perda miras oleh Mendagri'. 
Saya Gak mau mbahas perdanya seperti apa, tapi apa maksudnya coba partai tersebut buat spanduk segedhe kingkong, isinya cuma kek gitu?? Kalo mau lawan bisa gak sih pake cara yang elegan gak pake acara buat2 spanduk yang asli norak banget. Pencitraan bung?? 100%bisa jadi. 
Belum abis disitu, ke utara anda menyusuri jalan Magelang. Usai lewat lampu merah borobudur plasa, anda akan dikejutkan pemandangan yang lebih norak lagi.. Yang ini bendera partai biru, bukan yg sedang berkuasa (pede juga pernah tp gak di jln tsb).. Tp yg pernah dipimpin mantan ketum Muhammdiyah. 
Kanan kiri jalan tanpa permisi dikuasai bambu bambu bendera ni partai.. Mana bambunya yang pasang asal2an, sampai menyerobot jalan. Bahaya kan?? Udah merusak pemandangan,, membahayakan pula.
Yah, kalo boleh sedikit jujur tadi saya sempat mengumpat umpat dibalik helm yg saya pakai 
a#uuuu!! 

#politik itu kotor, gak heran kalo mengotor2i




gambar dirampas dari mbah google.. tulisan ngopas dari notes facebook aditya ferrio
0 komentar
Cinta... 
Siapa berani mendefinisikan secara tepat?? Kata itu terdengar basi. Tapi tak ada kata basi untuk menyebutnya. Pecinta.. 
Siapa berani mendeklarasikan diri sebagai subjeknya?? 

How about me?? 
Saya? Pecinta? Ah, saya salah bertanya. Sampai sekarang kata cinta masih ambigu dalam kamus hidupku. Apa sebab? Pada dasarnya saya masih bingung dalam meletakkan kata cinta di posisi yang benar. Hahaha, ini benar2 statement konyol. Bukankah kata orang barat love is simple? Ya sederhana kalau hanya sekadar memiliki dan dimiliki. Aku milikmu, dan kamu milikku. Apa itu yang namanya cinta? Tapi ada juga kata orang bijak cinta tak harus memiliki. Tapi apa benar selingkuh dibenarkan? 

Ah, anda ini makin ngaco!! 
Lah gimana wong cinta tak harus memiliki. Sudah punya istri, boleh dong cari cinta yang gak usah memiliki. 
Hahahaha, pola pikir anda begitu lugu. 

Okey, saya terima apa saja tanggapan anda. Saya coba lagi mencari apa itu cinta?? 

Ada kejadian menggelitik (buatku) hari ini. Sahabat dekat saya ngotot mengenalkan saya pada seorang perempuan kawannya. Karena saya sedang jomblo. Siapa tahu cocok, singkatnya siapa tahu saya bisa mencintai perempuan yang ia kenalkan. Lalu apa tandanya saya mencintai? Sedang kata cinta sendiri sulit saya terjemahkan. Kalo cinta yang dimaksud itu rasa suka thd lawan jenis. Lalu suka yang bagaimana?? 

Ah, anda itu homo atau pura2 bego sih? 
Rasa suka lawan jenis itu kan sudah inklud pada setiap makhluk hidup yang lahir. 

Hahaha.. Iya, iya. Itu normatif. Yang saya tanyakan itu rasa suka yang bagaimana? Bukan soal identitas suka atau tidak. Tapi soal substansi rasa suka itu!! Atau hanya dari fisik yang menurut saya good looking, gak menjemukan, 'wah' kalo diajak resepsi. Apa itu rasa suka yang menjadi struktur cinta? Tapi menurut saya kog malah jadi kekanak-kanakan ya. Seperti anak kecil mendapat mainan apik, terus dipamerin ke teman2nya. Cinta? 

Yaaah, anda begitu cepat menyimpulkan cinta. Bukan hanya dari fisik. Pernah denger pepatah don't judge the book by its cover. Jangan cuma liat suka tidak suka dari sampul saja, liat dari hatinya!! 

(melongo gak jelas).. 
Owowow, dari hati ya, jadi rasa suka itu terbentuk karena kesetiaan, tolong-menolong, ketulusan, dan keikhlasan menerima. Tapi bagaimana saya bisa tahu dia setia, tulus, baik hati berikut satu truk label kebaikan hati. Sedang saya bersamanya tak penuh tiap detik, tiap menit? Apa dengan cara meraba? Dia itu baik hati. 
Hahaha, saya paling gak bisa jadi hakim spiritual seseorang. Lagi pula tak punya kewenangan. Dalam hati siapa tahu tho.. Cinta? Hakim spiritual? 

Nah, anda mulai melangkah lebih jauh. Itu bagus, tapi bisa juga anda ditertawakan. Karena prinsip cinta itu saling percaya. Percaya kalo dia itu setia, percaya kalo dia itu baik. Sederhanakan? 

Loh, saya rasa anda malah melenceng dari substansi rasa suka menurut pertanyaan saya. Ok, kalo prinsip cinta itu ada rasa saling percaya. Tapi rasa suka kan harus tumbuh pertama sebelum rasa saling percaya?? Masak percaya dulu baru suka terus itu yang dinamakan cinta? 
Saya jd menyimpulkan arah pembicaraan ini. (saya dan logika gue sendiri bro, hahaha) 
kalo cinta itu berawal dari rasa suka secara fisik, meraba2 isi hatinya, terus percaya kalo isi hatinya baik. Apa itu definisi cinta?? 
Lalu kalo yang saya cintai tak mencintai saya. Apa bisa dinamakan cinta? 

Bisa kog. Cinta kan tak harus memiliki. 

Waduh, logikaku putar balik nih.. Kalo dikejar cuma bisa puter2, ntar pembaca pusing. 
So, 
cinta, kamu dimana? Atau 
cinta, kamu siapa?